Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

BNPB dan Pemprov Bali Satukan Visi Wujudkan Budaya Sadar Bencana

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Raditya Jati dan Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace di Kantor Gubernur Bali, Kawasan Renon Denpasar. (ist)

DENPASAR – Jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Bali menyatakan kesepakatan ‘satu visi’ dalam mewujudkan Budaya Sadar Bencana. Pemamfaatan kearifan lokal dalam penangggulangan bencana diharapkan bisa menjadi budaya kolektif sehingga bencana bisa diantisipasi.

Hal itu terungkap saat pertemuan Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Raditya Jati dan Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace di Kantor Gubernur Bali, Kawasan Renon Denpasar kemarin.

Dalam pertemuan, Cok Ace menegaskan jika berbicara masalah bencana, masyarakat Bali sejak dahulu telah memiliki Budaya sadar akan bencana sejak nenek moyang. Berbagai upaya telah dilakukan guna mengatasi kemungkinan akan terjadinya bencana hingga dampaknya.  

Kearifan lokal atau budaya itu  terbentuk karena masyarakat sadar akan bencana dan dampaknya dimana Pulau Bali dengan beberapa palau kecil di sekitarnya cukup berpotensi bali dilanda bencana. 

Dalam hal ini, budaya akan sadar bencana oleh masyarakat Bali telah dipraktekkan dalam keseharian kehidupan mereka.

“Masyarakat Bali sejak  dahulu telah mengklasifikasikan berbagai bencana yang datang serta punya cara sendiri dalam mengatasinya,” jelasnya.

Masyarakat Bali telah mengkalisifikasikan bencana yang terjadi serta diakibatkan sejumlah hal. Misalnya, seperti  bencana yang tidak terduga seperti bencana gempa dan tsunami.

Masyarakat  Bali juga menilai bahwa bencana yang terjadi termasuk disebabkan akibat ‘humans erros’ atau kesalahan manusia seperti kebakaran hutan, longsor dan lainnya.

Cok Ace menyebutkan, ada dua cara bagi masyarakat Bali dalam mengatasi hal tersebut, yakni upaya skala dan niskala.

Upaya unsur Skala dalam hal ini yakni masyarakat dihumbau untuk tidak melakukan pengrusakan terhadap alam semesta sehingga berpotensi terjadinya bencana. Disini masyarakat Bali, himbauan tersebut juga diberlakukan secara ketat serta didukung oleh aturan adat dengan adanya sejumlah saksi adat bagi yang melanggar.

Sementara unsur niskala, umumnya ditempuh oleh masyarakat Bali dengan melakukan sarana upacara keagamaan sehingga bencana tidak terulang lagi berikut memohon keselamat bagi masyarakat.

“Ada dua acara bagi masyarakat bali cara mengatasi yakni skala dan niskala. Secara filosofis masyarakat bali juga dipandang cukup ‘a ware’ (peduli) dengan lingkungan dan telah dikemas dalam bentuk kenyakinan kenyakinan untuk menjaga kelestarian hutan,” tegas Tokoh Puri Ubud ini.

Cok Ace juga menyebutkan bahwa ada namanya ‘wana kertih’ yang merupakan bagian dari visi dan misi provinsi bali sebagai bagian dari masyarakat bali dalam menjaga hutan dan lingkungan agar tetap lestari.

Dan misalkan terjadi gempa dan lainhya, maka lewat dengan kearifan lokalnya, masyarakat Bali sudah berpikir sudah mengantsipasi hal itu dalam bentuk membanguan bangunan yang kuta dan tahan gempa.

Jika swaktu waktu terjadi bencana, pihak Pemprov bali menempuh lagkah Langkah darurat seperti melakukan evakuasi terjadap arga terdampak di kawasan radius terdekat. 

Kawasan terdampak bencana dan kita ambil darurat seperti penyedian berbagai kebutuhan selama bencana seperti selimut dan tenda dll

Karena ditunjang dengan sejumlah kearian lokal di Bali tersebut, Cok Ace juga menyatakan optimismenya akan ajang GPDRR (Global Platform For Disarter Risk Reduction)  yang akan digelar  tahun 2022 mendatang akan berjalan dengan sukses.

Sejumlah persiapan sudah dilakukan termasuk telah melakukan telah simulasi kebencanaan dan telah bekerjasama dengan sejumlah hotel di Kawasan Bali selatan dan telah terseritifikasi.

“Merela telah memiliki SOP dan sertifikasi bagi masyarakat di kawasan pesisir jika seaktu waktu terjadi bencana. Sejumlah langkah juga kan ditempuh dan dalam hal ini Bali siap menggelar acara GPDRR berikut antisipasi kebencanaan dan kemungkinan terjadi,” tegas Cok Ace.

Disisi lain, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Raditya Jati berharap agar potensi atau kearifan lokal di kalangan masyarakat  diharapkan bisa menjadi budaya dalam penanganan bencana secara kolektif dimana  bencana dan resiko yang akan terjadi bisa diantisipasi secara bersama-sama dalam arti modalitas social.

Raditya menegaskan, hal itu penting agar bagaiamana pemahanan keraifan lokal bisa menjadi sebuah budaya, dimana resiko yang akan terjadi, berikut apa menjadi ancaman dan setrategi menghadapi bencana.

Dimana dengan pemahaman yang baik, maka resko akan berkurang dan jika resiko bencana semakin berkurang serta akan mengurangi korban jiwa berikut mengurangi warga terdampak serta dampak ekonominya.

“Saya rasa yang paling penting yakni bagaimana membangun kesadaran akan budaya sadar bersama dibangun secara kolektif dan budaya sadar bencana menjadi skala protitas menuju Indonesia aman dari bencana,” tegas Raditya.  (*/Tim/LB1)

Komentar