Festival Jatiluwih 2019 Tampilkan Perpaduan Alam dan Budaya

Tenaga Ahli Menpar bidang Pemasaran dan Kerjasama I Gede Pitana membuka secara resmi Festival Jatiluwih 2019 yang ditandai dengan pemukulan gong (Foto: ist/hms)

TABANAN – Tenaga Ahli Menpar bidang Pemasaran dan Kerjasama I Gede Pitana membuka secara resmi Festival Jatiluwih 2019  yang ditandai dengan pemukulan gong di sebuah bukit areal persawahan Jatiluwih  D’Uma, Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Jumat, (20/9).

Kegiatan yang mengusung tema Sri Pahngayu Jagat  yang berarti  memuliakan Dewi Sri untuk dapat memberikan  manfaat dan kesejahteraan pada masyarakat di kawasan itu, juga dihadiri Ketua DPRD Provinsi Bali, Pangdam IX Udayana, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Asisten I Setda Provinsi Bali, Ketua DPRD Tabanan, Perwakilan Bupati/Walikota se Bali, Forkompinda Tabanan, Sekda Tabanan, Instansi Vertikal dan BUMD beserta OPD di lingkungan Pemkab Tabanan.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti  mengucapkan selamat datang kepada seluruh undangan yang hadir di kawasan Budaya Dunia Jatiluwih. “Semoga membawa kesan tersendiri, karena Bapak dan Ibu hadir ditengah hamparan pemandangan persawahan dengan tanaman padi yang sedang tumbuh dipagari gunung dan perbukitan,” katanya.

Bupati Eka  mengungkapkan keunikan alam Jatiluwih ini menjadikan Jatiluwih ditetapkan sebagai warisan Budaya Dunia, dengan aktifitas budaya pertaniannya dalam wadah lembaga. Sehingga sangat tepat Festival Jatiluwih ke tiga ini mengusung tema Sri Pahngayu Jagat, dimana hakikat Dewi Sri dalam falsafah Hindu Bali adalah kuasa atas kelahiran dan kehidupan, representasi yang disimbolkan dengan padi.

“Kondisi alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatan mancanegara, dimana wisatawan dapat langsung terlibat dalam aktifitas pertanian di DTW ini sehingga menjadi asset yang sangat berharga bagi para petani,” imbuhnya.

Ditambahkan,  pengembangan kepariwisataan di kawasan ini dibangun dengan konsep pariwisata untuk petani, sehingga petani adalah aktor dari kegiatan pariwisata dan mendapat manfaat dari pariwisata. Dengan digelarnya festival ini sangat memotivasi masyarakatt dan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk sepakat bersama masyarakat Jatiluwih untuk menjaga alam dan budaya untuk dilestarikan.

Menurut Bupati Eka , Festival Jatiluwih ini akan berlangsung sampai tanggal 22 september 2019 dengan menampilkan berbagai potensi pertanian, mulai dari produk olahan pertanian, sajian kuliner, aktivitas panen tradisional dan pengolahan lahan pertanian secara tradisional.

“Mari kita jadikan event ini sebagai wahana untuk upaya pelestarian, wahana peningkatan produktivitas berbagai sektor, wahana promosi memperkenalkan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang ada di Kabupaten Tabanan, wahana pemberdayaan dan mensejahterakan masyarakat,” ajaknya.

Pada kesempatan tersebut Bupati Eka atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan beserta seluruh masyarakat Tabanan, mohon kepada Bapak Menteri Pariwisata RI atau yang mewakili saat itu agar mempromosikan festival Jatiluwih ini untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke Jatiluwih khususnya dan Tabanan pada umumnya sehingga terwujudnya masyarakat Tabanan yang Sejahtera, Aman dan Berprestasi. (Dim/cia)

Komentar