Tingkatkan Kehandalan Pasokan Avtur Bali Nusra, Pertamina Optimalkan Fungsi Terminal BBM Manggis

foto : Oke

KARANGASEM - Pertamina meningkatkan kehandalan suplai Avtur untuk kebutuhan operasional Bandara di Bali dan Nusa Tenggara dengan melakukan optimasi pola suplai. Perubahan yang dilakukan dengan merubah supply point yang sebelumnya melalui penggunaan fasilitas FSO (Floating Storage & Offloading) Avtur di wilayah perairan Kalbut, Situbondo, menjadi melalui supply point darat di Terminal BBM Manggis.

 Hal ini ditandai dengan acara ceremonial pendaratan FSO Avtur ke TBBM Manggis, di Karangasem, Bali Jumat (25/01). Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi nyata dari 3 (tiga) program kerja utama yang saat ini terus diupayakan Direktorat LSCI, yaitu Pengurangan jumlah kapal floating storage, optimasi pola suplai, dan penurunan waktu sandar kapal di Pelabuhan (Integrated Port Time).

“Pola ini akan semakin menjamin ketersediaan Avtur di Bandara Ngurah Rai berikut efisiensi,” ungkap Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur (LSCI) Pertamina Gandhi Sriwidodo kepada awak media di lokasi didampingi Direktur Utama Patra Niaga Nina Sulistyowati, Direktur Utama Elnusa Petrofin Haris Syahrudin, dan GM Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V, Ibnu Chouldum.

Gandi memaparkan bahwa Bandara Ngurah Rai Bali merupakan salah satu bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia, dengan kebutuhan Avtur rata-rata sebesar 2.500 kilo liter/hari. Perubahan pola suplai Avtur ini, diharapkan dapat lebih menjamin kehandalan pasokan (security of supply) Avtur di Bandara Ngurah Rai, yaitu dengan memperpendek Round Trip Days (perjalanan kapal dari supply point) dari 3.5 hari menjadi 2.5 hari serta meningkatkan kapasitas penyimpanan Avtur di Terminal BBM Manggis dari 20.000 kilo liter (KL) menjadi 30.000 KL, dan di pertengahan Februari akan ditingkatkan lagi menjadi 40.000 KL.

Pola Suplai Avtur di Bandara Ngurah Rai sebelumnya menggunakan kapal bertipe Medium Range (MR) dari RU (Refinery Unit) IV Cilacap. Avtur selanjutnya diisikan ke FSO berupa kapal tipe MR yang diapungkan di perairan Kalbut, Situbondo.

Kemudian secara regular, Avtur dibawa menggunakan kapal tipe kecil (small) sejumlah 3 kapal berukuran maksimal 8.000 DWT (deadweight tonnage) ke Dermaga Benoa untuk dibongkar dan dipompakan langsung ke DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) Ngurah Rai.

Sedangkan setelah optimasi, Supply Avtur dari RU IV Cilacap diangkut kapal bertipe MR langsung ke Terminal BBM Manggis, kemudian disimpan dalam tangki darat berkapasitas 30.000 KL untuk disalurkan ke Dermaga Benoa menggunakan kapal berukuran small.

Dari Dermaga Benoa, Avtur dipompakan ke DPPU Ngurah Rai menggunakan pipa. Beberapa upaya lainnya yang dilakukan untuk mendukung perubahan pola suplai ini adalah dengan menyiapkan sarana jalur produk Avtur di dermaga Terminal BBM Manggis, serta meningkatkan flowrate discharge Avtur hingga 400 KL/jam dengan pipa berdiameter lebih besar dam sistem double manifold sepanjang 8 kilo meter dari Dermaga Terminal BBM Benoa sampai DPPU Ngurah Rai.

Selain menjaga kehandalan pasokan Avtur, perubahan pola suplai ini juga memberikan dampak efisiensi bagi Perusahaan sekitar USD 7.3 juta, atau setara dengan Rp 106 miliar per tahun dari penghilangan penggunaan 1 (satu) kapal type MR yang digunakan sebagai FSO serta pengurangan penggunaan 2 (dua) kapal jenis small sebagai akibat pengurangan waktu tempuh antara TBBM Manggis ke Dermaga Benoa. Pertamina sebagai salah satu BUMN terdepan, terus berkomitmen untuk melayani kebutuhan energi nasional, dengan tetap melakukan upaya efisiensi di segala lini termasuk dalam operasional di Direktorat LSCI.

Upaya efisiensi dimaksudkan untuk memperpendek rantai suplai sehingga dapat menekan biaya distribusi agar Perusahaan lebih kompetitif serta mampu menjangkau seluruh pelosok negeri.

“Pola seperti ini juga akan dipersiapkan di sejumlah wilayah di Indonesia seperti di Sulawesi dan Papua,” jelasnya. (*/Oke)

Komentar