Dodol Buah Naga, Kuliner Khas Wisata Bayuwangi

Sri Astuti dan Misinem sedang melakukan pengolahan dodol buah naga. (Ist)

BANYUWANGI – Jika sedang berkunjung ke ke Banyuwangi, tak ada salahnya mencoba mencicipi panganan khas berupa dodol buah naga karya para pengrajin kuliner khas Kota Gandrung tersebut. Jajanan dodol warna merah itu banyak dijumpai di outlet-outlet terdekat mulai toko hingga supermarket.

Dodol Buah Naga ini mulai dikenal sejak dua tahun belakangan ini. Melimpahnya bahan baku buah merah merupakan salah satu alasan bagi para petani khususnya kaum ibu ibu di sekitar kawasan Desa Pesanggarahan Banyuwangi guna memamfaatkan hasil pertanian.

Rasanya yang gurih dan manis merupakan salah satu daya tarik bagi para penikmat kuliner yang sedang berwisata. Meski awalnya masih sebatas coba-coba, namun kiat para ibu-ibu  petani    di Kota Osing ini, patut diapresiasi menyusul upaya mereka menambah penghasilan rumah tangga.

Kesuksesan para pengrajin kuliner ini juga tidak lepas dari campur tangan sebuah perusahaan pertambangan yakni PT Bumi Suksesindo (BSI) dalam memberdayakaan warga kota Banyuwangi. Belakangan, pendampingan masyarakat petani buah naga ini mulai memperlihatkan hasil.

Salah seorang petani, Sri Utami (36) asal Desa Pesanggaran, Banyuwangi, mengaku dirinya dan teman teman petani buah naga lainnya mendapat pembinaan sejak tahun 2016 lalu dari PT BSI sehingga mampu berswakarya seperti sekarang ini.  

“Awalnya saya petani buah naga dan hasil melimpah mendorong para petani membuat dodol buah naga seperti sekarang ini,” paparnya kepada awak media yang berkunjung di lokasi pengolahan UMKM Center Binas PT BSI di Desa Pesanggrahan Bayuwangi. Sabtu (22/12).

Usai dicampur dengan berbagai bahan lainya, seperti tepung, gula, dan santan dan lainnya, bahan buah naga yang sebelumnya dikupas kemudian dipanaskan hingga 4 (empat) jam lebih. Proses pendinginan merupakan proses lanjutan sebelum akhirnya dikemas menarik sebelum dipasarkan.

Bisnis kuliner yang dirintis dengan merek ‘Mutiara Selatan’ ini saat ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Bahkan produk dodol naga ini  juga sudah diexport ke luar negeri hingga ke Taiwan, hongkong dan Malaysia.   

“Saat ini sudah dikirim ke luar negeri lewat jasa temen temen yang kebetulan berada di luar negeri. Harapan kami semoga semakin dikenal suatu saat nanti,” tegas Sri didampingi salah satu pengrajin kuliner lainnya Misinem (42).

Untuk produk,  dodol buah naga ini dikemas dalam dua kemasan yakni kemasan 1/4 (seperempat ) kg segarga Rp 15 ribu  dan 1/2 (setengah) kg dan dijual Rp 30 ribu). Meski tergolong baru, namun karena rasanya pas bagi pelanggan,  para pengrajin ini mampu menjual hingga satu kwintal dalam se bulan.  Terlebih lagi, jika musim liburan tiba, pesanan akan dodol buah naga semakin meningkat.  

Sementara itu, Ketua Paguyuban UMKM Centre Banyuwangi Selatan, Agustin, menyebutkan, kiat mulai berkembangnya para petani menjadi pengrajin dodol buah naga ini bermula langkah pembinaan PT BSI yang memberikan modal awal sebanyak Rp 5 (lima) juta.  

Selain dibantu permodalan, para petani juga diberikan pelatihan mulai proses produksi, pengemasan hingga pemasaran. Hasilnya, berkat PT BSI, warga yang dahulunya sebagian besar merupakan petani, kini sekaligus bisa menjadi pengrajin kuliner di rumah masing-masing.

Menariknya, selain menjadi penrajin dodol buah naga, sebagian masyarakat lainnya mulai tergerak untuk menjadi pengrajin kuliner lainnya di desa tersebut mulai dari pengrajin pembuat jahe bubuk, rengginang, aksesoris dari batu dan lainnnya.

“Kami harap pembinaan dari PT. BSI ini terus berkelanjutan,” tutup Agustin. (Cia)

Komentar