Bertemu Konjen Tiongkok, Gubernur Bali Paparkan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Bali

Foto : Ist/Hms

DENPASAR - Gubernur Bali, Wayan Koster, menerima kunjungan Konjen Tiongkok,  Gou Haodong yang didampingi dua orang stafnya di kediamannya, Jayasaba Denpasar, Jumat (23/11). Gubernur Koster yang  didampingi oleh Wakil Gubernur Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, Kadis Pariwisata A.A.Gd. Juniarta Putra, dan Ketua PHRI Kabupaten Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya pada kesempatan tersebut memaparkan kebijakan pembangunan kepariwisataan di Provinsi Bali 5 tahun kedepan.

Ia menjelaskan  bahwa Pemerintah Provinsi Bali akan  menata secara menyeluruh penyelenggaraan kepariwisataan yang ada di Bali yang berbasis budaya yang berkualitas. Selain itu Koster juga menjelaskan pembangunan Pariwisata yang berkaitan dengan pengembangan destinasi pariwisata, produk pariwisata, promosi pariwisata, dan peningkatan pelayanan pariwisata secara berkualitas. Terkait dengan kebijakan tersebut, semua pihak yang ikut dalam penyelenggaraan Pariwisata Bali harus mengikuti aturan hukum serta kebijakan yang berlaku di Bali dengan disiplin, tertib, dan bertanggung jawab untuk menjaga citra Pariwisata Bali dan Indonesia, paparnya.

Dalam pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, ramah, santai tersebut Koster juga menjelaskan tentang kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang melakukan penertiban kepada pengusaha jasa pariwisata yang illegal (tidak memiliki ijin), maupun terhadap perusahaan berijin namun usahanya menyimpang dari perijinan, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dengan mengeluarkan Surat Gubernur yang memerintahkan Bupati dan Walikota SeBali untuk melakukan penertiban sesuai kewenangannya.

Keluarnya Surat Gubernur Bali setelah mendapat rekomendasi dari DPRD Provinsi Bali yang meminta agar Gubernur Bali melakukan penertiban secara tegas. Dengan Surat tersebut tersebut penertiban yang dilakukan oleh Gubernur Bali berlaku untuk semua pengusaha jasa pariwisata dari semua negara termasuk yang diselenggarakan oleh pengusaha lokal Bali, tidak hanya pengusaha dari Tiongkok, artinya kebijakan tersebut sama sekali tidak dilakukan secara diskriminatif.

Berkenaan dengan penertiban yang dilakukan oleh Gubernur Bali tersebut, Gubernur Koster menyampaikan kepada Konjen Tiongkok agar kebijakan tersebut tidak diartikan mengganggu hubungan dan kerjasama antar dua negara yang selama ini telah berjalan dengan baik; tapi semata mata hanya dilakukan untuk pengusaha yang melakukan praktek tidak sehat dan melanggar peraturan hukum yang merusak citra pariwisata.

Gubernur Bali juga menyampaikan agar hubungan dan kerjasama antar Pemerintah Provinsi Bali dengan Pemerintah Tiongkok berlangsung semakin baik dan kuat dimasa yang akan datang.

Konjen Tiongkok Gou Haodong merespon dengan baik apa yang disampaikan oleh Gubernur Bali. Konjen Tiongkok mewakili Pemerintah nya menyatakan sangat mendukung kebijakan penertiban yang dilakukan oleh Gubernur Bali yang dilakukan secara tegas terhadap pengusaha yang ilegal dan merusak citra pariwisata Bali. Bahkan Konjen Tiongkok menilai bahwa kebijakan penertiban yang dilakukan secara tegas oleh Gubernur Bali merupakan tindakan yang sangat berani dan baik untuk meningkatkan kualitas pariwisata di Bali.

Kebijakan ini sangat penting dilakukan terhadap pengusaha yang ilegal, meskipun jumlah pelakunya belum banyak, dengan penertiban ini maka pengusaha yang ilegal tidak mempunyai tempat untuk melakukan aktifitas usahanya, jangan sampai pengusaha yang ilegal seperti itu semakin bertambah di Bali, karena akan memperburuk dan merusak citra pariwisata Bali. Kebijakan penertiban tersebut justru akan meningkatkan kualitas pariwisata Bali.

Konjen Tiongkok juga menyampaikan bahwa Pemerintah Tiongkok akan mengawasi dan menertibkan pengusaha jasa pariwisata yang ilegal di Tiongkok dan memiliki jaringan dengan pengusaha lokal Bali. Bahkan Kebijakan penertiban yang dilakukan oleh Gubernur Bali adalah sangat penting untuk memperkuat pariwisata sebagai pilar perekonomian masyarakat Bali dan meningkatkan kerjasama bidang pariwisata antar pemerindah Provinsi Bali dengan Pemerintah Tiongkok.

Konjen Tiongkok juga menyampaikan bahwa ada enam unsur yang dibutuhkan oleh wisatawan Tiongkok; 1) Makanan yang berkualitas termasuk diharapkan supaya disediakan kuliner Bali. 2) wisatawan Tiongkok memerlukan akomodasi hotel yang memadai dan berkualitas untuk menampung para wisatawan dari Tiongkok sesuai kebutuhannya masing-masing mulai dari hotel bintang 5, bintang 4, sampai bintang 3. 3) Wisatawan Tiongkok membutuhkan transportasi yang kualitasnya baik, dan dilengkapi dengan AC. 4) Wisatawan Tiongkok membutuhkan destinasi pariwisata yang baik dan bervariasi yang menampilkan ciri alam dengan budaya yang indah serta beragam; jangan hanya menikmati Pura Besakih, Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu, tapi juga destinasi pariwisata seperti di kabupaten lain Jembrana, Buleleng, Tabanan, dan Klungkung.

Destinasi wisata dan budaya yang dilihat oleh wisatawan.  Tiongkok saat ini sesungguhnya masih sangat sedikit, masih banyak destinasi wisata dan budaya yang belum dilihat oleh wisatawan Tiongkok. 5) Wisatawan Tiongkok juga perlu melihat pentas seni masyarakat Bali, upacara keagamaan masyarakat Bali dan memerlukan oleh-oleh hasil kerajinan masyarakat Bali untuk dibawa pulang kenegaranya. 6)Konjen Tiongkok juga menyarankan agar dibuat paket wisata selama beberapa hari di Bali yang berisi program kunjungan ke destinasi wisata, menyaksikan pementasan seni Bali, menyaksikan kegiatan keagamaan masyarakat Bali dan mengunjungi toko-toko yang menjual industri kerajinan rakyat Bali. Dengan paket kunjungan tersebut, wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali adalah wisatawan yang berkualitas, yang memiliki cukup uang untuk bisa berwisata, berbelanja kuliner dan hasil kerajinan masyarakat Bali. Dengan paket seperti ini, tidak mungkin ada travel yang menjual paket wisata dengan harga murah seperti sekarang ini yaitu menjual paket wisata ke Bali dengan harga 800.000 selama 5 hari, pasti uangnya tidak cukup untuk beli tiket, bayar hotel, beli makanan dan oleh-oleh.

Konjen Tiongkok bersedia diundang untuk membantu Pemerintah Bali memperbaiki kualitas pelayanan pariwisata, kemudian mempromosikan wisata Bali kepada masyarakat di Tiongkok.

Menanggapi masukan pemikiran dan tawaran Konjen Tiongkok, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan terima kasih atas pengertian, dukungan dan perhatiannya yang sangat baik terhadap kebijakan Gubernur Bali.

Gubernur Bali menyampaikan bahwa saat ini sedang disiapkan kebijakan penataan secara menyeluruh kepariwisataan Bali yang akan diatur dengan peraturan daerah Provinsi Bali untuk membenahi secara total pelayanan kepariwisataan untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas. Sehubungan dengan itu Gubernur Bali meminta Konjen Tiongkok untuk meningkatkan kerjasama yang lebih baik kedepan khususnya mendatangkan wisatawan Tiongkok dalam jumlah yang lebih banyak tapi berkualitas. Selain itu Gubernur Bali juga mohon dukungan untuk pembangunan infrastruktur. (*/Cia)

Komentar