Ngusaba Kapat, Deha Teruna Bungaya Ngerejang di Besakih

foto : Oke

KARANGASEM - Prosesi Ngusaba Kapat diawali dengan prosesi neduh di Pura Peneduhan, Desa Pakraman Bungaya. Prosisi ini pada intinya untuk mohon keselamatan dalam perjalanan menuju Besakih. Pada jaman dulu tradisi ini dilakukan dengan mepeed atau berjalan kaki dari Dsea Adat Bungaya sampai Pura Besakih. Namun sekarang karena sudah ada kendaraan prosesi dilakukan dengan naik kendaraan sampai di parkiran Penataran Agung, Besakih.

Desa adat Bungaya yang merupakan salah satu desa tua di Bali pnya berbagai tradisi dan ritual unik. Selaian itu Desa ini juga punya hubungan khusus dengan Pura Besakih. Pada Ngusaba Kapat kali ini Desa Adat Bungaya melalui Deha dan Teruna Desanya menggelar aci Ngapat di Besakih. Mereke mempersembahkan rejang sacral kas Bungaya. Dengan pakaian ada Bali kas Bungaya yakni kain merah dan selendang kuning tanpa menggunakan busana.

Menurut Bendesa adat Bungaya Jro Bendesa De Mantan Rumanti didampingi Kelian Dadia Psek Gelgel Bungaya Gede Krisna Adiwidana kalau ritual ini sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun. tradisi ini juga dilakukan secara rutin setiap dua tahun sekali ketika tahun genap.

Disana Dadong Mangku ngelungsur tirta dengan dikawal empat orang pemuit. Pemuit adalah teruna yang mendapat tugas khusus dalam ayah ayah tertentu termasuk mengawal nuas tirta pingit ini. Keempatnya bersenjatakan Cendek semacam tombak panjang. Sekitar jam 12.00 wita deha dan teruna ngiring Tirta Pingit ke Pelinggih Dana Kebayan Sakti di atas Pura Penataran Agung, Besakih. Tirta ini waji menggunakan bumbung bamboo petung (mambu besar red). “Tidak bisa menggunakan wadah lainya harus dengan Bumbung,” ujarnya.

Dari  Bungaya Deha Teruna dan juga Tetua Desa serta beberapa warga Desa Pakraman Bungaya langsung menuju Pura Pengubengan. Sekitar 5 km di utara Pura Penataran Agung Besakih. Kemudian langsung menuju Tirta Pingit untuk nuas tirta disana. Prosesi ini dilakukan sekitar jam 09.00 wita Senin lalu.

Disana Deha Teruna dan Tetua Desa istirahat sebentar sambil mempersiapkan upacara dan sesajan. Sekitar jam 14.00 wita mulai di lakukan Ngerejang. Ngerejang dilakukan khusus para Deha sementara Terutanya berdiri di beberapa sudut. Prosesi negerajang dilakukan dengan muter murwa daksina sebanyak Sembilan kali puteran atau Sembilan ileh.

Saat Rejang sakral ini muter diiringi tebuh Gambang.  Tabuh gambang ini memang khusus untuk mengiringi tari rejang. Tabuh ini merupakan tabuh kuno yang biasanya digunakan untuk mengiringi ritual di beberapa Desa. Sementara untuk Selonding di Bungaya sangat di sakralkan dan hanya tedun saat Ngusaba Dangsil saja. Selonding sendiri merupakan gambelan dari jaman Kerejaan Majapahit.

Dari sana sekitar jam 16.00 wita mereka turun ke Pura Penataran Agung dan kembali ngerejang disana dengan mengelilingi Meru Tumpang Sembilan. Disini juga ngerejang sebanyak Sembilan putaran. Kemudian mereka istirahat dan mekemit (bermalam red) di Pura Besakih. Besok paginya sekitar pukul 03.00 wita pagi buta Deha Bungaya kembali Ngerejang. Ditangah cuaca dingin pelaksaan Ngusaba Dangsil nampak khusuk. Rejang kali ini diikuti puluhan Deha Bungaya.

Rejang pagi tersebut juga sekaligus ngelungsur pamit. Karena usai ngerejang Deha Teruna dan juga tetua Desa Bungaya langsung mepamit ke Desa Bungaya.

Tiba di Desa Pakraman Bungaya digelar ritual pemendak di Pura Melanting dengan dipuput Dua Pemangku wanita. Yakni Dadong Mangku Jawa menghadap ke utara dan Dane Dadong Mangku Maspahit menghadap keselatan. Dari sana kemudian kembali ke Pura Desa Bungaya. Di Pura Desa kemudian di adakan Rejang penutup dengan Sembilan kali puteran.

Untuk diketahui Desa Pakraman Bungaya selalu ada aci setiap bulanya. Hanya pada sasih Karo saja yang tidak ada aci memberikan kesempatan untuk proses menusia Yadnya. Tirta Pingit tersebut kemudian nyejer selama tiga hari di Pura Desa. Jumat besok baru dilakukan ngelebarang. Saat negelebar warga Budanya nuas tirta pingit tersebut ada juga yang di tunas di bawa pulang untuk di percikan di pekarangan  untuk memohon keselamatan. (Oke/Cia)

Komentar