Puncak Karya Ngenteg Linggih di Pura Penataran Nangka

Doakan Gunung Agung Tenang

foto : Oke

KARANGASEM - Puncak karya mamungkah, ngenteg linggih padudusan agung menawaratna di Pura Penataran Agung LInggih Ida Batara Gunung Agung, digelar pada purnama kapat Senin (24/9) kemarin. Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri didampingi sejumlah pejabat menandatangani prasasti. Sementara prosesi upacara digelar  mulai pukul 13.00 usai penandatanganan prasasti dan  persembahyangan bersama undangan pejabat.

Ketua panitia karya Ida Made Alit melaporkan, awal mula rencana penuntasan pemugaran pura di wilayah Desa Pakraman Nangka, Perbekelan Buanagiri, Karangasem itu, terkait gejolak dan erupsi Gunung Agung. Di mana pada 22 September 2017, ribuan warga Karangasem malam hari panik mengungsi. Setelah situasi membaik, ada mohon petunjuk dan akhirnya disepakati penuntasan penyelesaian pemugaran pura itu. Penuntasan pemugaran berjalan seiring dengan persiapan dan rapat-rapat terkait rencana menggelar karya.

Penuntasan pemugaran pura dan karya agung itu, diyakini sebagai janji atau kaul Raja Karangasem dulu pada tahun 1478. Di mana saat itu, raja berjanji saat Ida Batara Gunung Agung kapundut kairing melasti ke segara sepanjang jalan  dari Pura sampai ke pantai Jasri juga akan melantaran kain putih. Kini, janji itu sudah dipenuhi. Semoga Karangasem dan dunia terhindar dari bencana alam, dan Gunung Agung tetap tenang seperti saat ini.

Ida Made Alit melaporkan, Pemkab Karangasem menganggarkan melalui dana bantuan khusus kabupaten (BKK) Rp 5,2 miliar. Dana itu, Rp 4 miliar untuk pembangunan dan Rp 1,2 miliar lainnya dipergunakan untuk karya. Di lain pihak, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri usai sembahyang bersama dengan undangan dan pejabat dari kementerian menyampaikan anggaran Pemkab Karangasem Rp 5,2 miliar. Namun total anggaran terserap mencapai sekitar Rp 17,5 miliar. ‘’Swadaya masyarakat luar biasa. Swadaya masyarakat lebih besar dari bantuan Pemkab Karangasem. Saat melasti ke Pantai Jasri selain sepanjang jalan melantaran  kain putih, juga ditarikan tari wali rejang giri kusuma. Penarinya 250 orang ibu-ibu yang hanya latihan seminggu,’’ papar Mas Sumatri.

Bupati Mas Sumatri menyampaikan, masih ada fasilitas penunjang pura yang belum terbangun sebagai akibat keterbatasan anggaran.bangunan penunjang itu, yakni dapur suci, pasraman pemangku atau pinandita, serta lapangan parkir. Diharapkan umat yang sudah sukses, seperti Dirjen serta gubernur atau wagub dapat membantu. Sebelum persembahyangan bersama undangan dan pejabat kementerian, kemarin juga diisi dengan dharma wacana dari Ida Pandita Mpu Acharya Nanda.

 Selain pejabat pemerintahan di Bali serta tokoh amsyarakat dan tokoh puri di bali, hadir juga pejabat dari pusat serta dari kementerian, seperti Dirjen Bimas Hindu Prof. Dr. Ketut Widnya, Kepala BPSDM IGN Wiratmaja, Dirjen Peternakan dan Keswan Drh. Ketut Diarmita, Deputi BKN RI Ir. Nyoman Arsa, staf khusus  kepresidenan AA Ari Dwipayana, serta Deputi Kementerian Pariwisata Prof. Dr. Gede Pitana.

Usai puncak karya, Ida Batara malinggih di balai pesamuan dan kaaturan nyejer selama 42 hari. Tiap hari umat bakal ngaturang penganyar secara bergiliran. Puncak karya kemarin dihadiri ratusan pejabat organisasi perangkat daerah Karangasem dan masyarakat nangka dan sekitarnya, dipuput sejumlah ida sulinggih. (Oke) 

Komentar