Geliat Tukad Kayu Pasca Erupsi Gunung Agung

Kondisi Mulai Tenang, Pengrajin Giriana Kangin Mulai Garap Order

foto : Oke

KARANGASEM - Warga masyarakat Selat dan sekitarnya sekarang ini mulai lebih tenang. Ini karena kondisi Gunung Agung yang lebih tenang. Beberapa warga juga sudah mulai berani membuka usahanya kembali. Diantaranya adalah I Wayan Darta. Pengrajin kayu asal Dusun Geriana Kangin, Duda Utara, Selat ini nampak sudah mulai mencari order untuk digarap di gudangnya.

Darta sendiri adalah pengrajin kayu dan ukiran kayu. Selaian mengukir juga ahli dalam membuat bagunan dan juga pelinggih dari Kayu. Dia juga menyelesaikan dari awal sampai punishing termasuk memasang Perada dan Cat.

“Ya lumayan juga sempat nganggur karena ngungsi sekarang sudah mulai kerja lagi,” ujarnya ditemui di Gudang miliknya kemarin. 

Karena itu dirinya beryukur dan berharap kondisi Gunung Agung terus membaik dan normal kembali. Saat ini dia sedang menggarap pesanan bagunan berupa Piyasan Sanggah. Bagunan tersebut dengan ukuran 1,5 kali 2 meter. “Harga bagunanya Rp 60 juta, sudah termasuk pasang Parada,” ujarnya.

Hanya saja jenis perada yang dipergnakan adala perada oles bukan perade gede. Karena kalau menggunakan perada gede jauh lebih mahal.

“Ini juga pasuh saat Ngungsi, namun baru bisa mengerjakanya,” akunya.

Sebelumnya juga sudah sempat menyelesaikan satu bagunan Sake nem dengan luas 4 kali 2,70 meter.  Untuk bahan yang piyasan ini dikasi yang punya bagunan, saya hanya menggarap saja.  

Bagunan tersebut dikerjakan bersama dengan empat orang tukanya yang kesemuanya warga kampong setempat. Darta juga mengerjakan termasuk dengan motif. Sementara untuk pasang perada dan cat terkadang dibantu anak anak dan keponakanya.

Awalnya Darta adalah pengrajin batu. Namun karena persiangan ketat di batu dia pun beralih sebagai tukang kayu. Untuk tukang kayu sendiri di kampong tersebut belum terlalu banyak. Paling kalau di hitung ada sekitar lima orang.

Suka duna jadi tukang batu diakui Darta juga terkadang bagunanya tidak di bayar. Ini karena uang belum terkumpul. “Adang sampai malu cari uang sendiri berkali kali datang sampai bosan, namun ada juga yang lancer sehingga bisa untuk menanggung biaya hidup,” urainya.

Sementara untuk order dia cari sendiri dari mulut ke mulut. Mengambil borongan sendiri diakui kurang begitu menguntungkan. Dirinya mengaku akan lebih untung kalau kerja harian. Karena tidak repot repot harus mengeluarkan modal untuk beli bahan. “Kalau kerja tinggal terima gaji harian saja…ini lebih menguntungkan,” akunya. Karena kalau mengerjakan order harus punya modal untuk beli bahan.

Masalah permodalan diakui menjadi kendala. Dirinya mengaku punya ijin usaha dan berencana akan mencari KUR. Hanya saja belum bisa dilakukan karena tidak gampang juga mengajukan kredit. Darta sendiri mengaku belajar mengukir kayu dan batu dari belajar secara otodidat. Diantaranya juga ikut kakak kakaknya yang memang juga bergerak bidang pertukangan.

Selaian bisa mengukir batu dan kayu, Darta juga bisa mengukir paras. Hanya saja pesnaan untuk paras jarang diterima karena sulitnya bahan baku di Selat. Sementara untuk bahan bagunan pelinggih bisanya menggunakan kayu khusus. Diantaranya adalaah kayu Cempaka dan kayu Majegau. Untuk Kayu Cemaka per kibiknya seharga Rp 6 juta. sedangkan Majegau mencapai Rp 8 juta per kubik. “Kayunya harus pesan,” ujarnya. (Oke)

Komentar