Sejumlah Daerah Beberkan Sukses Hapus Iklan Rokok

Para pimpinan daerah kawasan Asia Pasifik dalam pertemuan APACT ke-12 di Nusa Dua Bali

BADUNG – Meski cukup sulit diterapkan, namun sejumlah daerah rupanya cukup sukses menghapus iklan rokok berikut menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di daerahnya masing-masing. Keberhasilan itu tidak lepas iktikad dari Pemerintah Daerah setempat untuk mau sekaligus mencoba upaya memangkas pendapatan daerah dari iklan rokok tersebut.

Sebut saja, Pemda Bogor, Kulonprogo, Banyuwangi bahkan Pemda Klungkung tercatat sebagai daerah yang saat ini berhasil menerapkan KTR dan menghapus iklan rokok ditempat umum. Para pimpinan daerah berbicara tentang sukses mereka menghapus pendapatan iklan tersebut sekaligus penerapan KTR di daerahnya.

Walikota Bogor, Bima Arya menyatakan bahwa dari hasil survey yang dilakukan, dampak rokok menyebabkan perbaikan kualitas penduduk jadi terhambat. Hal itu disebabkan karena orang tuanya merokok sehingga anak malas sekolah karena tidak ada insentip untuk anak sekolah.

“Hasil peneliian yang kami lakukan, setiap hari warga tambah miskin. Celakanya, orang tua perokok justru mampu membeli rokok, namun tidak mampu member insektip buat anak yang sekolah,” paparnya di sela-sela acara Konferensi Asia Pasific Conference on Tobacco or Health (APACT) 12th di Nusa Dua Bali 13-15 September 2018.

Untuk itu, pihaknya akhirnya menerapkan KTR di beberapa lokasi sekaligus meniadakan pendapatan dari iklan rokok. Gunanya yakni untuk mengurangi kecanduan terhadap rokok bagi para perokok sekaligus bertujuan meningkatkan tarap hidup warganya.

Meski sulit diterapkan, namun lanjut Bima, hal itu dilakukan secara bersama-sama dengan kesadaran. Bahkan sewaktu-waktu diadakan razia bersama di sejumlah lokasi larangan merokok dengan hukuman denda tipiring untuk membuat epeck jera.

Hal sama juga diungkapkan oleh sejumlah Kepala Daerah lainnya seperti Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Bupati Klungkung Nyoman Suwirta.

Keiganya berbicara di depan peserta APACT dan berupaya pendapatan iklan rokok tersebut dari sector lain. Buktinya mereka berhasil memwujudkan pendapatan sector lain dengan meniadakan pendapatan dari iklan rokok.

Hilangnya pendapatan dari iklan rokok selama ini masih menjadi kendala atau kekhawatiran banyak daerah sehingga belum maksimal dalam upaya pengendalian rokok dalam mencegah perokok pemula.

Prihal peningkatan derajat kehidupan masyarakat dengan mencegah merokok ini juga ditegaskan oleh Ketua Center of Excellent for Tobacco Comtrol  and Lung Health (CTCLH) Universitas Udayana Made Kerta Duana.

Menurutnya, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk memberikan perlindungan kepada warga terhadap penyakit tidak menular dengan pengendalian rokok, dan  upaya pengendalian ini, tegasnya harus melibatkan komitmen pemerintah darah.

Karena itulah, dalam ajang internasional ini, pihaknya menghimpun para pimpinan daerah dan juga pimpinan tingkat Asia dan Pasifik terhadap upaya-upaya yang mereka lakukan dalam mengimplementasikan kebijakan pengendalian rokok.

Para pimpinan daerah ini banyak berbagi informasi dan setrategi yang disharing kepada Indonesia khususnya bagi daerah-daerah yang selama ini khawatir dalam mengimplementasikan kebijakan pengendalian seperti Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ataupun penghapusan iklan rokok.

“Lewat momentum penting ini, dengan sharing suskes story daerah-daerah yang berhasil menerapkan kebijakan KTR ini, bisa mendorong memotivasi daerah lainnya agar bisa menghadapi segala tantangan-tantangan yang ada dengan strategi dan cara-cara yang telah dilakukan daerah-daerah yang sukses dalam pengendalian rokok," ungkapnya.

Pihaknya mengapresiasi pertemuan APACT ini karena semakin meningkatkan komitmen mereka untuk terus berkoordinasi meningkatkan silaturahmi antar daerah maupun dalam kerangka Asia Pasifik, untuk menyatukan langkah dan gerakan dengan menggelar pertemuan rutin lanjutan guna bertukar infomasi dan pengalaman dalam pengendalian rokok. (Cia)

Komentar