Peternak Cilik Coba Bertahan di Tengah Erupsi Gunung Agung

foto : Oke/Ist

KARANGASEM - Kondisi Desa terdampak di lereng Gunung Agung sebagian besar masih aman aman saja. Padahal Gunung Agung sekarang ini tetap mengeluarkan hembusan terkadang juga erupsi. Berbagai persoalan dialami warga sekitar lereng Gunung Agung, diantaranya adalah masalah ekonomi.

Karena itu mereka harus tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Sementara hal itu jelas tidak leluasa untuk dilakoni. Untuk beternak dan bertani sebagian warga terdampak juga masih harus berhati hati. Sekalipun ada berusaha untuk mulai mengeliat namun tetap saja was was kalau kalau Gunung Agung tiba tiba erupsi.

Hal yang sama juga dialami peternak dan petani di Selat, Karangasem. Ketut Prebawa Putra 15 misalnya peternak cilik ini mengaku was was juga. Namun demikian dirinya tetap bertahan untuk beternak di kampngnya Dusun Geriana Kangin, Duda Utara, Selat Karangasem. Kampung ini sendiri dengan radius 9 km dari Gunung Agung dan masuk zona bahaya II. Saat Gunung Agung leval IV semua warga di Desa ini mengungsi ke Klungkung dan Sidemen.

Prebawa Putra sendiri mengaku kembali menggeluti beternak ayam Kampung seteleh pulang dai ngungsi. awalnya juga sebelum mengungsi dia juga beternak ayam kampong di sisi timur rumahnya. Anak empat saudara yang masih duduk di kelas II SMPN 2 Selat ini mengaku menekuni sebagai peternak ayam karena hoby. “awalnya hanya iseng…namun enak juga,” ujarnya.

Begitu pulang ngungsi dia kembali menekuni beternak ayam kampong. Sebelumnya saat Ngungsi sebagian ayam ayamnya dia jual sebagian masih di rumah. Untuk itu dirinya juga terpaksa bolak balik dari lokasi pengungsian ke rumahnya untuk kasi makan ternak ayam.

Ketut mengaku ternak ayam kampong yang di pelihara itu mulai dari telor, penetasan sampai pemeliharaan. “Kami mulai dari mengawinkan pejantan dengan betinanya,” ujarnya.

Dirinya punya kandang khusus untuk mengawinkan. Begitu bertelur kemudian di erami. Telur menetas langsung di pindah dari induknya ke ruangan dengan pemanas. Saat itu juga di vaksin agar tidak kena virus. Sementara induknya di mandikan agar tidak ingat anaknya. ini dilakukan agar sang induk lekas bertelur kembali.

Untuk ayam kampong (Bali red) yang pejantan dia jual. Banyak peminat yang datang untuk membeliknya. Untuk ayam pejantan dia jual rata rata Rp 300 ribu per ekornya. Selaian ayam Bali asli, Ketut juga mengaku melakukan kawin silang untuk ayam Bali dengan Bangkok dan Lensi. Sehingga muncul anakan ada yang Bali, Bangkok dan Lensi juga.

Ayam ayam jenis ini banyak peminat diantaranya ada juga yang untuk diadu. Sementara untuk ayam betinanya ada yang dirawat sebagai indukan. Ada juga yang dijual untuk keperluan upacara atau dipotong.

Dimana untuk upacara banyak warga kampong yang suka ayam lokal untuk sarana upacara. Alasanya karena dagingnya lebih enak dan gurih usai dipakai upacara biasanya di santap. Sementara untuk ayam betina dia jual seharga Rp 80 ribu per ekornya.

Penetasan sendiri dilakukan secara alami, hanya saja menggunakan penghangat. Untuk pemasaran dirinya mengaku hanya di level lokal. Ini karena banyak warga Kampung yang membutuhkan ayam Bali. sementara untuk pakam dia menggunakan pakan carun dan jagung serta dedak.

“Terkadang juga kita kasi buah kelapa yang sudah kita belah untuk pakanya,” ujarnya.

Harga ayam untuk pejantan menurut Prebawa yang mahal itu tergantung body dan juga bulunya. Prebawa mengaku saat ini masih dalam tahap ujicoba sekalipun sudah sering dia pasarkan. Kadang yang dia gunakan juga masih bekas garase mobil dengan luas 5 kali 9 meter. Dari mana dapat teori memelihara ayam? Dia mengaku belajar dari internat dan dari temanya. Sementara untuk kendala adalah serangan virus. Ayam Bali seperti ini memang rentan di serang virus. Waktu itu juga sempat terserang virus untung saja tidak banyak yang mati. (Oke)

Komentar