Tukang Batu Asal Banyuwangi Main Monolog di Singaraja

Foto : Istimewa

SINGARAJA - Seorang tukang batu dan buruh bangunan, Watik, tampil memukau dalam pentas monolog di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Minggu (12/8) malam. Pementasan itu adalah rangkaian dari pementasan “11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung” yang disutradarai sastrawan dan pegiat teater Kadek Sonia Piscayanti.

Naskah berjudul “Aku Perempuan Batu” yang dimainkan Watik diolah dari kisah hidup Watik yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur itu. Kisah Watik sebagai tukang batu sangat menyedihkan. ia hanya tamat SD, tidak memiliki keahlian apa-apa. Menikah usia muda, di usia belasan, lalu menjadi pekerja kasar, hanya untuk sesuap nasi.

Sebelum menjadi tukang, di Jawa ia menjadi buruh apa saja, dari buruh sabit rumput di hutan, buruh petik buah, hingga buruh angkut kotoran ternak. Dia pernah mengalami hampir tidak makan karena tidak ada uang sama sekali, pekerjaannya tidak layak dan penghasilannya sering kali minim.

Menurut Sonia, menyutradarai seorang perempuan tukang batu adalah pertama kalinya dalam karirnya sebagai sutradara. Ia mengambil idiom perempuan batu, sebab hidup Watik keras seperti batu.

“Ia bekerja keras juga seperti batu, tak kenal lelah dan tak kenal putus asa. Dan keras kepala menghidupi semua keluarga. Anak, cucu, dan ibunya sendiri,” kata Sonia.

Monolog yang dimainkan Watik ini adalah pementasan kedua dari projek tetaer dokumentar garapan Kadek Sonia Piscayanti. Watik adalah satu dari 11 ibu yang bermain monolog di tempat yang berbeda-beda di Singaraja, Buleleng, Bali. 

Menurut Sonia, dipilihnya Watik menjadi penting bagi project teater dokumenter ini sebab ia menjadi perspektif unik yang mewakili perempuan dari kalangan sosial bawah. Seperti tujuan project ini, menjadi ruang dengar bagi perempuan, Sonia menyediakan wadah teater untuk Watik berbagi cerita.

“Pada saat pementasan itu semua mata penonton memandang hormat kepada Watik sebagai aktor. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan,” katanya.

Menurut Sonia, proses menjadikan Watik menjadi aktor tentulah bukan perkara mudah. Begitu berat prosesnya hingga Watik hampir menyerah. Pertama, tentu membaca teks naskah. Meski cerita sendiri, ketika menjadi naskah, ia menjadi naskah yang berjarak. Kedua, tentu masalah waktu. Sebagai tukang batu, masa kerjanya full dari pagi hingga sore hari.

“Waktu latihan sangat sempit. Hanya malam. Sejam dua jam. Lalu persoalan lain yaitu menampilkan akting natural,” katanya.

Meskipun ini sekali lagi tentang dirinya sendiri, Watik mengaku sulit menampilkan ceritanya. Namun semua proses itu terasa terbayar dengan pentas kemarin. Apresiasi penonton sangat baik. Bahkan sebagian besar menangis. Terjadi pentas kedua, setelah pentas usai yaitu semua ibu dalam 11 ibu memeluk Watik yang menangis di panggung. Itulah keharuannya. Itulah teater sesungguhnya.

Tokoh teater dari Jakarta, Roy Julian dari Kantor Teater mengatakan bahwa teater yang berlatar biografis ini sangat unik dan organik. Ide project ini sangat orisinal dan menyentuh sisi lain dari pentas teater pada umumnya.

Menurut Roy, paling tidak ada 3 catatan penting yang ia lihat. Pertama, teater menjadi ruang berbagi secara psikologis dan menyentuh hingga ke dalam ruang jiwa. Kedua, ruang yang benar-benar realis tercipta sebab mereka bermain di setting keseharian mereka. Ketiga, faktor keberanian aktor yang berani berbagi mengungkap fakta dirinya menjadi keunggulan tersendiri karena teks sangat organik dan real. Ia berharap project ini terus dikembangkan.

“Sutradara mengatakan bahwa boleh jadi project ini adalah tonggak awal bagi karir seninya mengembangkan teater dokumenter secara lebih intens dan berkelanjutan di masa depan,” kata Roy. (*/Cia)

Komentar