Peti Jenazah Tokoh PDIP Tegallalang Saat Pelebon Dibungkus Bendera PDIP

Suasana pelebon tokoh sekaligus pentolan PDIP Gianyar Ngakan Gede Ngurah Jelantik siang kemarin (30/7). Foto : Ist

GIANYAR - Prosesi pelebon almarhum Ngakan Gede Ngurah Jelantik dari Puri Saren Keliki, Tegallalang Senin (30/7) digelar dengan diiringi ribuan warga. Bade tumpang sembilan bersama lembu hitam dengan tinggi sekitar delapan meter mengantarkan tokoh PDIP, sekaligus banteng sejati Gianyar ini. Tak ketinggalan sederet pentolan PDIP Bali serta PDIP Gianyar juga turut hadir menghantarkan tokoh yang meninggal Selasa, 5 Juli lalu.

Salah seorang putra almarhum, Ngakan Putu Tirta Pramono yang dihubungi mengungkapkan, prosesi pelebon mendiang memang berjalan penuh khidmat. Dimana tidak hanya diantarkan para pentolan dan kader PDIP, prosesi pelebon ini juga turut dihadiri ribuan warga dari beberapa banjar.

“Untuk bade tumpang sembilan ini merupakan karya undagi dari Taman, Bedulu, Blahbatuh. Sedangkan lembu dibuat undagi dari Pejeng Aji, Tegallalang dibantu masyarakat Keliki. Untuk lembu hitam ini ukurannya merupakan yang tertinggi, karena tingginya sekitar delapan meter dan panjang sekitar empat meter. Proses pembuatannya sekitar 23 hari,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam proses pengarakan, bade dan lembu diarak dari Puri Saren Keliki hingga ke Setra Desa Pakraman Keliki. Proses arak-arakan pun berlangsung lebih dari dua jam hingga sampai ke setra. “Syukurnya semua proses tadi berjalan lancar. Meski dengan ukuran bade dan lembu yang cukup besar, dengan cara estafet oleh pengarak dari 10 banjar secara bergiliran, akhirnya bisa sampai di setra,” paparnya.

Hingga malam dituturkan, prosesi masih berlangsung di Setra Desa Pakraman Keliki, dan direncanakan prosesi nganyut bakal dilakukan ke Pantai Lebih, Gianyar.

“Saat ini (sekitar pukul 19.30 Senin 30/7, Red) masih proses upacara di setra, karena pembakaran baru selesai sekitar jam 16.00 tadi. Nanti untuk nganyutnya sesuai rencana ke Segara Lebih,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya mewakili pihak keluarga pun menyampaikan rasa terimakasihnya kepada seluruh masyarakat yang turut mengantar dan mengikuti prosesi pelebon sang ayah. Termasuk kepada para kader PDIP, khususnya para pengurus DPD PDIP Bali, Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Wayan Koster dan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati. Lalu Nyoman Adi Wiryatama, hingga Paslon Bupati dan Wakil Bupati Gianyar terpilih I Made Mahayastra dan AA Gde Mayun, serta mantan Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata.

Seperti diketahui tokoh PDIP asal Puri Saren Keliki ini berpulang pada Selasa, 5 Juni lalu di Rumah Sakit Bali Mandara, Denpasar. Sejak saat meninggal jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Puri Saren sambil menunggu prosesi pelebon.

Semasa hidup almarhum dikenal sebagai marhaen sejati, dan menjadi panutan anak-anaknya, termasuk menjadi guru politik. Hingga tak heran almarhum sendiri selain pernah menduduki posisi sebagai Sekretaris PDIP Gianyar, oleh masyarakat Desa Keliki, almarhum pun dipercaya sebagai perbekel selama 26 tahun.

Nah salah satu pesan almarhum yang begitu diingat sang anak, yakni supaya peti jenazahnya dibungkus dengan bendera PDIP. Pesan tersebut menjadi bentuk rasa cinta almarhum kepada partai wong cilik yang bernafaskan marhaenisme. (*/Cia)

Komentar