Manjakan Wisatawan, Jatiluwih Target Bebas Sampah

Kawasan Jatiluwih, salah satu primadona wisata di Tabanan. Foto : Liputanbali.com

TABANAN – Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih di Penebel Tabanan menargetkan  diri sebagai obyek wisata bebas sampah baik organik maupun plastik. Selain bentuk upaya menjaga ekosistem kawasan Jatiluwih,  niat tersebut sekaligus upaya memanjakan para wisatawan yang berkunjung.

Upaya salah satu pelestarian lingkungan itu, ditunjang degan diresmikannya sebuah tempat pengolahan sampah, Reuse, Reduce, dan Reycle, (TPS 3R) di Banjar Kesambah Kelod, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, langsung meresmikan TPS 3R dihadiri warga dan tokoh warga setempat. Jumat (19/1). Tempat pengolahan sampah ini berdiri diatas tanah milik DTW Jatiluwih seluas 10 are dan telah dibangun bersumber dari anggaran APBD Tabanan sebesar Rp 644 juta lebih.

Saat ini, volume sampah baik rumah tungga dan sejumlah obyek wisata di DTW Jatiluwih berkisar 20 meter kubik perhari. Bahkan 10 persen dari volume  sampah tersebut, tidak bisa dikelola dengan baik. Keterbatasan mesin pengolahan merupakan salah satu kendala yang ada.

                                              

Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa mengakui, ide pengadaan TPS 3R tersebut, bermula banyaknya warga sekitar membuang sampah ke kuburan atau ke got. Hal itu, akan berdampak kurang baik terhadap kesehatan lingkungan maupun kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Jatiluwih.

“Idenya berawal  karena banyaknya warga membuang sampah ke tempat yang tidak seharusnya seperti kuburan dan got,” urai Sutirtayasa disela-sela acara kemarin.

Jika tidak dikelola dengan baik, tegasnya, maka dikhawatirkan lambat laun kawasan wisata Jatiluwih akan ditinggalkan wisatawan.  Terlebih lagi, kawasan Jatiluwih merupakan salah satu ikon dunia international dengan ditetapkannya sebagai salah satu warisan budaya dunia (WBD).

                                                               

Meski masih memiliki beberapa kendala, keberadaan TPS 3R ke depan  diharapkan mampu mengatasi persoalan sampah yang ada, sehingga para wisatawan yang berkunjung semakin nyaman saat berwisata.

“Kelestarian ekosistem dan lingkungan Jatiluwih harus tetap terjaga sebagai kawasan wisata dunia dan kami saat ini sedang mempersiapkan pelatihan  6 petugas sampah agar bisa mengolah sampah plastic,” ungkapnya.

Menariknya, sekitar 30 persen sampah yang ada akan dipilah untuk dijadikan pupuk organik kemudian dijual kembali, selebihnya sampah plastik atau un organik akan dibuat cenderamata.

Selain didukung pihak Desa dan Adat, rencananya, Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan akan mengajak pihak pengelola yakni DTW Jati Luwih pergi belajar membuat paping plastic di pabrik plastik di Jember.   Hal itu dilakukan agar system pengolahan sampah terpadu yang baru dimiliki bisa berjalan maksimal dengan hasil pengolahan sampah yang maksimal.

"Program ini akan kita kawal supaya benar-benar bagus pengolahanya," jelas Kadis Raka Icwara.

                                                              

Dilain pihak, Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti meminta kepada masyarakat lebih sadar akan bahaya sampah berikut mengoptimalkan bank sampah yang ada,demi terciptanya lingkungan yang bersih di kawasan Jatiluwih.

Konsep pembangunan TPS 3 R terangnya, merupakan salah satu cara mengelola sampah secara mandiri dari masyarakat yakni dengan cara Reduce (pembatasan timbulan sampah), Reuse (pemanfaatan kembali) dan Recycle (mendaur ulang).  

“Instalasi ini dibangun atas dasar sinergitas masyarakat Desa Jatiluwih dengan Badan DTW Jatiluwih dan Pemkab Tabanan.Tugas dan tanggung jawab bersama untuk memelihara TPS 3 R ini,” ungkap Eka.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Eka juga menekankan pentingnya bahaya sampah, salah satunya bahaya pembuangan sampah ke laut dapat menyebabkan timbulnya bakteri yang dapat menyerang penghuni air, hewan, bahkan manusia sekalipun.

Di Bandung, tegasnya,  seorang anak terkena serangan bakteri ganas pseudmonas  auroginosa.  Oleh karena itu perlu dibuatkan sosialisasi terkait bahaya sampah seperti video, spanduk dan lainnya.

“Saya tempo hari berbicara dengan pak Menteri Luhut, bahwa di Bandung ada seorang anak terkena penyakit berbahaya dari sampah. Begitu berbahaya sampah sebab ada banyak virus dan bakteri ada pada sampah plastic. Namun jika dikelola dengan baik, sampah tidak menjadi masalah namun akan menjadi berkah,” tegas Eka. (*/Cia

Komentar