Bukan Galungan 'Buwung'

Ketua DPRD Karangasem, I Nengah Sumardi. Foto: ist

KARANGASEM – Bagi warga pengungsi, Perayaan Hari Raya Galungan Nopember ini, mau tidak mau harus dilewati dengan lebih sederhana. Pasalnya, kondisi Gunung Agung belum juga mau bersahabat, meski pihak berwenang sudah menurunkan statusnya ke level siaga. Kesabaran warga pengungsi kali ini semakin diuji, dan bukan berarti Galungan 'buwung' (batal), ketika warga hanya mampu merayakan Kemenangan Dharma tersebut di pengungsian.   

Kondisi itu disikapi Ketua DPRD Karangasem, I Nengah Sumardi dan berharap warga Karangasem yang kini berada di pengungsian harus lebih tabah dan tegar dengan kondisi yang ada. Sebab, merayakan Galungan, baik di rumah maupun di pengungsian memiliki makna sama jika yadnya dilakukan dengan tulus.

‘’Tidak ada istilah Galungan buwung (batal), sembahyang di tempat pengungsian memiliki arti dan makna yang sama. Kami harap warga pengungsi bisa memaklumi keadaan saa ini dan tetap sabar dan tegar’’ ujarnya minggu kemarin.

Sumardi juga berharap, agar masyarakat bisa lebih meningkatkan sradha dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widi melalui moment perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, sekaligus menjadi momentum meningkatkan kepekasan social dan cinta kasih terhadap sesama serta cinta terhadap alam semesta, seusai dengan konsep Tri Hita Karana.

“Mewakili jajaran anggota dan staf DPRD Karangasem, kami  mengajak masyarakat bisa menjadikan momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan ini agar bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan Srada Bakti. Melalui lantunan doa-doa suci, mari kita memohon kepada Sang Hyang Widi agar kondisi Gunung Agung saat ini tidak menjadi sebuah bencana,” paparnya.  

Selama status Gunung Agung masih belum normal, pria asal Sibetan,kecamaan Bebandem ini juga meminta agar warga pengungsi tetap bertahan di pengungsian, sebab merupakan jalan yang terbaik ditengah status ancaman erufsi saat ini.  

Caranya dengan mematuhi arahan pemerintah, merupakan pilihan terbaik pada kondisi seperti sekarang ini. Karena Galungan merupakan yadnya yang bersifat rutin, maka melaksanakan persembahyangan di tempat pengungsian bukan berarti akan mengurangi makna dari hari raya suci tersebut. Melainkan justru akan lebih meningkatkan kesabaran dan keihlasan warga jika suatu waktu dihadapkan dengan musibah.

“Kami harapkan musibah ini bisa lebih meningkatkan kesabaran dan keihlasan sehingga bisa berwujud ketegaran dalam diri umat se dharma jika swaktu waktu dihadapkan dengan cobaan,” tegas Sumardi. (Oke/Cia).

Komentar