Ingin Hasil Tanaman Padi Berlimpah, Pakai Cara Ini!

Jajaran BMKG Bali dan Petani Subak Soka Selemad Barat saat penen Padi. Rabu (25/10). foto : Liputan Bali. Com

TABANAN – Jika ingin hasil melimpah saat menanam padi, mungkin cara ini salah satu solusi bagi para petani agar bisa lebih baik. Caranya cukup gampang. Cukup dengan memantau cuaca dan iklim setiap tahunnya, dijamin hasil tanaman padi akan lebih baik dari sebelumnya.

Cara jitu tersebut terungkap saat panen tanaman padi petani di Subak Soka, Selemadeg Barat, Tabanan, yang sebelumnya telah mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bali untuk para petani setempat. Rabu (25/10).

Cara pemantauan cuaca dan iklim menggunakan tehnologi itu, sekaligus bisa menjadi salah satu acuan dalam bercocok tanam padi, tanpa menapikan system sasih atau system pemakaian bulan yang selama ini dipakai para petani sebelumnya.

Ketua Pekaseh Subak Soka, Selemadeg Barat, I Wayan Nadi Suryantha mengakui dengan memakai system pantauan iklim, hasil panenan para petani saat ini, jauh meningkat dari sebelumnya.

Dalam satu hektar lahan, jelas nadi, para petani bisa mencapai hasil hingga 8 ton. Jumlah itu jauh lebih baik dari hasil panenan sebelumya yang hanya mencapai 6 ton setiap hektar lahan.

“Kalau dulu, kami menggunakan system sasih atau bulan, namun perkiraan sasih tidak pernah tepat, bahkan sering tidak sesuai dengan prediksi para petani. Akibatnya hasil panen petani tidak pernah meningkat,” papar Nadi.

Nadi juga juga menjelaskan, ke depan para petani akan selalu berkordinasi dengan pihak BMKG saat akan mulai bercocok tanam, sebab pantauan cuaca dan iklim sangat baik diterapkan karena selalu tepat sesuai perkiraan tehonogi.

“Untuk tahun ini, kami telah mencoba bercocok tanam padi di saat cuaca sedang tidak musim hujan, dan hasilnya bisa meningkat jauh lebih baik dari sebelumnya. Petunjuk tersebut kami peroleh dalam sekolah lapang iklim yang digelar BMKG yang telah berlangsung sejak tiga bulan lalu.” Ujarnya.

Dilain pihak, Kepala Balai Besar BMKG wilayah III Denpasar, Muhammad Taufik Gunawan, menjelaskan, bahwa saat ini, para petani tidak bisa menggunakan pola penggunaan system sasih seperti sebelumnya, sebab perkiraannya terkadang meleset karena pengaruh perubahan iklim secara global (global climate change).

Penggunaan  system pantauan iklim, papar Taufik merupakan system yang bisa diadopsi oleh para petani sekarang ini. Artinya peran tehnologi cukup berperan penting dalam pola cocok tanam petani.

“Saat ini iklim selalu berubah, untuk itu kadang petani merugi karena tidak pas melakukan cocok tanam. Sekarang ini, bukan hanya masalah hama yang menjadi kendala, namun masalah perubahan iklim juga menjadi masalah petani saat ini.,” tegas Taufik.

Ke depan, tehnologi penggunaan iklim tersebut diharapkan bisa terus dipergunakan para petani agar hasil bercocok tanam bisa lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, pihak BMKG Bali siap membantu memberikan informasi tenang cuaca dan iklim agar bisa membantu tahapan proses bercocok tanam.

Dijelaskan, tehnologi tentang iklim juga bisa digunakan dalam hal bercocok tanam  jadi petani bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk bercocok tanam karena pantauan cuaca ekstrim sudah diketahui lebih dahulu kapan akan terjadi.

“Kami siap memberikan informasi ke semua petani terkait masalah cuaca dan iklim. Silahkan hubungi kami agar bisa berdiskusi tentang masa tanam yang pas sehigga bisa menghasilnya hasil yang lebih baik,” tegasnya.    

Sekolah Lapang Iklim (SLI) ini sendiri sengaja digagas oleh pihak BMKG Bali dengan dipantau BMKG pusat. Tujuannya antara lain, yakni ingin membantu para petani sekaligus ilmu yang telah diperoleh bisa ditularkan kepada petani lainnya di Bali. Sebanyak 25 Petani di Subak Soka ikut serta dalam SLI yang telah digelar selama tiga bulan. (Cia). 

Komentar